[don’t skip, play the audio]

Titanic - My Heart Will Go On (Piano Cover by Riyandi Kusuma).mp3


Sinar mentari yang hangat mewarnai suasana syahdu pagi itu, membelai lembut dedaunan dan kelopak bunga yang menghiasi taman, berbagai jenis flora menari dalam harmoni warna-warni semak-semak yang memukau. Pepohonan yang menjulang pun, memberikan naungan alami yang menyejukkan. Meski nuansa alami begitu kental, kesan elegan dan menakjubkan tak luput dari setiap sudut interiornya. Sentuhan tangan ahli memadukan sempurna antara unsur alam dan kemewahan modern.

Rangkaian bunga eksotis menghiasi pilar-pilar putih yang menjulang, sementara karpet terbentang anggun menciptakan jalur sakral menuju altar putih. Lampu-lampu kristal berkilauan lembut, memantulkan cahaya mentari dan menciptakan atmosfer magis yang seolah keluar dari dongeng-dongeng klasik. Alunan musik yang laun menyentuh hati, burung-burung bernyanyi kecil dan berterbangan, semakin menambahkan rasa tak sabar orang-orang yang hadir menanti pemberkatan janji suci kedua insan hari ini.

Moment yang paling mendebarkan untuk Carl telah tiba ketika jarum panjang jam menunjuk pukul sepuluh tepat, dan suara MC mulai terdengar membuka acara, mengumumkan dengan penuh semangat bahwa saatnya telah tiba bagi sang mempelai pria untuk menampakkan diri.

Carl menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa setiap langkah yang akan ia ambil sebentar lagi akan membawanya semakin dekat pada momen yang telah ia nantikan sepanjang hidupnya. Carl berjalan di altar yang dihiasi banyak bunga bermakna, seperti seorang raja yang begitu gagah dan tampannya, semua mata memandang dan dia diiringi tepuk tangan yang riuh di sepanjang jalannya menuju altar. Wajah bahagianya tercetak jelas sekali di sana sampai tak sedikit orang juga bisa merasakan. Beberapa ada yang sampai menitikan airmata, seperti Linda, Yura, Juan, dan Hessly.

Selang beberapa menit berlalu sejak penyambutan mempelai pria, atmosfer di ruangan mulai berubah menjadi lebih intens dan penuh antisipasi ketika sang MC kembali meminta kedatangan mempelai pengantin lainnya yang dinanti-nantikan. Biga kemudian muncul, dengan anggun dan perlahan, Biga melangkah memasuki peraltaran, didampingi oleh sang ayah yang berjalan dengan bangga di sisinya.

Cahaya seperti menyinari sosok Biga, nafas setiap orang tertahan—terpesona pada keindahan yang menguar di sana, mereka setuju jika Biga tampak begitu cantik dan memukau dengan sebuah mahkota bunga menghiasi rambutnya, dan senyum manis Biga menghipnotis semua mata yang memandangnya. Raut bahagia tak lepas dari air wajah dengan sipitnya yang tak berhenti bertaut dengan obsidian pekat milik Carl di ujung sana.

Pria yang sebelumnya merasa bagaikan seorang raja yang siap dan gagah, kini berubah tak karuan dengan degup jantung yang terasa menginvasi rongga dadanya. Bahkan dentingan piano yang indah mengalun juga tepukan tangan orang-orang tak cukup menarik Carl dari keterpakuannya pada Biga, kekasihnya, pujaan hatinya, pemberi warna dalam hidupnya selama ini. Air mata seakan ingin melesak keluar melihat sosok Biga berjalan menuju ke arahnya. Carl merasa seperti mimpi menyadari ia telah menjadi tujuan orang yang dicintainya, dan mereka akan menjadi tempat pulang satu sama lain setelah ini.

Pada hari ini, Carl akan mengikrarkan janjinya di hadapan Tuhan bahwa dia dan segenap hidupnya akan terus melindungi dan mencintai Biga untuk selama-lamanya. Mengingat hal itu, kegugupan Carl sontak tertarik sepenuhnya. Dia harus lantang mempersuarakan sumpah pernikahannya dan semua orang harus melihat bahwa Carl bersungguh-sungguh untuk Biga.